FILM PENDEK (SHORT MOVIE) “SUMMER, BUS” - REVIEW FILM PENDEK YANG PENUH MAKNA
Kembali lagi menulis ulasan dan kali ini adalah sebuah film pendek, yang sebenarnya ini untuk memenuhi tugas akhir semester di masa pandemik dan karantina ini (lumayan sedih, kangen kuliah tatap muka).
Berada di era yang modern seperti saat ini, film menjadi salah satu media penghibur sekaligus mengedukasi yang mudah kita tangkap baik melalui indara penglihatan maupun pendengar. Film mampu memanjakan mata karena mudah untuk diterima karena visualisasi gambar dan audionya. Film erat kaitannya dengan fiksi. Cerita yang diolah sedemikian rupa menjadi daya tarik dari sebuah film.
Film pendek bejudul
Summer, Bus dirilis pada 15 September 2017 di Korea Selatan. Film berdurasi 18
menit ini menceritakan kisah yang terjadi antara sopir bus dengan lingkungan
disekitarnya. Fokus film ini berada pada waktu di musim panas dan transportasi
umum yaitu bus.
Berdurasi kurang dari 30 menit, film ini mampu menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang erat akan makna. Plot cerita yang di filmkan cukup unik tetapi tidak asing dengan kehidupan sehari-hari.
Mengambil
tokoh sopir bus sebagai tokoh utama, seorang lelaki biasa yang sudah cukup berumur
memerankan seseorang yang sering dihadapi masalah namun berusaha untuk tetap
menolong orang lain semampunya. Ada empat kebaikan yang mungkin sangat menonjol
dan bisa diambil maknanya dari film ini.
Saat Pak sopir meminta maaf setelah terjadi
kesalahpahaman dengan salah seorang penumpang wanita yang ia pikir belum
menempelkan kartu bus. Sembari memberi kata-kata yang hangat ia berhasil
menyelesaikan kesalahpahaman, ia juga menolong wanita tersebut karena wanita
itu tidak sengaja menjatuhkan buah yang dibawaya dalam kantong plastik sebelum turun
dari bus.
Saat menolong wanita hamil yang tidak mendapat kursi duduk di bus, dimana sebelumnya tidak ada penumpang yang merespon.
Selanjutnya,
bersimpati dengan koleganya yang mengalami kecelakaan dan menolong temannya
yang lain dengan menukar jadwal bekerja mereka.
Lalu yang terakhir saat mengembalikan krayon milik anak kecil yang sering menggodanya dengan mencoret-coret kaca bus. Setelah dicari lebih dalam ternyata anak kecil tersebut sedang sakit dan merindukan ayahnya yang pergi memancing untuk biaya operasinya.

Setelah anak kecil tersebut sembuh dan naik ke bus yang
Pak sopir kemudikan. Begitu terkejutnya ia saat mendapati kaca di bus dipenuhi
gambar-gambar ikan dan hewan laut yang biasa dilakukan oleh anak kecil itu.
“kamu suka laut nak?”
“ya”
“kenapa kamu sangat menyukainya?”
“apakah perlu alasan?”
“kamu benar!”

Film
diakhiri dengan dialog manis dari Pak sopir dan anak kecil sembari kamera
beralih menyorot dari bus ke arah langit dengan memasukkan efek CG berupa ikan-ikan mengisyaratkan
kebahagiaan dan menambah nilai estetik
film.
Pemilihan
plot cerita cukup menarik. Peristiwa yang terjadi bisa dipahami dengan baik,
termasuk penyampaian pesan dan makna. Musik yang mengiringi sangat cocok, yaitu
instrument akustik dari lagu berjudul Hyehwadong oleh Park Boram. Sangat tidak asing di
telinga saya dan salah satu ost favorit karena melodinya indah dan
memiliki arti yang bermakna dalam.
Meski hanya sebuah film pendek akting dari pemeran tidak kaku, kecakapan mereka dalam menampilkan emosi dan menggunakan dialog dengan baik terlihat natural. Sebagai media audiovisual dengan penataan suara dan musik yang baik pemilihan setting seperti pengambilan gambar, tempat, dan suasana dirasa sudah tepat.
Penyuntingan yang baik juga mendukung menghasilkan susunan
gambar dan suara yang dinamis, mampu menggugah emosi penonton, dan mampu
memunculkan makna-makna yang simbolik.
Sebuah film dengan cerita yang ringan dan santai. Sama seperti musim panas yang erat kaitannya dengan kehangatan. Siapapun yang melihat film ini mestinya akan tersentuh dan merasa kehangatan dari sikap seeorang yang mengajarkan bahwa melakukan kebaikan itu tidak terbatas diamanapun tempatnya, seperti tempat sekecil bus ini misalnya.
Kebaikan sekecil apapun bisa jadi mendatangkan kebahagian bagi orang lain.




😍😍
BalasHapus